Kita tidak pernah menyadari bahwa setiap individu-individu mempunyai keterbatsan-keterbatasan hidup hingga untuk melangkah-pun, berbuat, maupun berbicara, kita harus menaati peraturan-peraturan (hukum) yang ada. Sehingga kita merasa bak seekor burung dalam sangkar yang menghabiskan masa hidupnya dengan jalan yang tidak di inginkanya. Dan dia menghabiskan masa hidupnya dalam kekejaman, kesengsaraan yang tiada rasa iba, dia terus menjerit dan tiada hentinya untuk berteriak, sembarai bertanya siapakah ENGKAU dan siapakah AKU ini.
Seperti layaknya kita sekarang yang hidup dalam sebuah bentangan tanah yang begitu luas dikelilingi oleh lautan. Entah darimana asalnya, ketika generasi kita lahir ke dunia kita mengenal yang namanya sebuah NEGARA, dan kita mulai menyentuh dan mngenalnya dengan perlahan, sedikit demi sedikit kita mulai mempelajari dan memahaminya. Ooh ternyata; ini dan beginilah kiranya..!!!
Dan, pada masa dewasa ini, dimana kita mencoba-coba bertindak, berfikir dan menafsirkan realita, apa yang sesungguhnya tujuan semua ini, ketika didalam kebingungan kita terus dan terus bertanya-tanya, kenapa harus begini? untuk apa dan untuk siapa negara ini? dan siapa pula yang membuatnya seperti ini? apakah semua orang menginginkan ini? atau-kah cuma fikiran dan keinginan segelintir orang saja, yang ingin menguasai dan mengikat paksa kebebasan orang lain dengan aturan yang mereka buat-buat sendiri.!
Dan, sebagian orang yang mengira akan hidupnya tak layak seperti ini, dia mulai membantah dan melawan, dia bertanya siapakah mereka-mereka itu? Kenapa dibuat seperti ini? Dan kenapa hidup saya jadi begini? Dan kenapa saya harus dipaksa patuh padanya (KEKUASAAN). Berkata-lah dalam keadaan “bingung’’ __saya sungguh tidak menginginkan semua ini.__
Terlintas dikepala si anak ‘’bingung’’ siapa sebenarnya NEGARA, atau untuk apa KEKUASAAN itu, apakah cuma memelihara sedikit dari banyaknya manusia? dan memamfaatkan kehidupan banyak orang hanya untuk menindas orang miskin supaya mereka menjadi kaya dan tetap berkuasa..? Dan mereka-mereka (Lintah Darat) itu dengan merasa "lebih" dari manusia lainnya dengan merasa tak berdosa membodohi banyak orang dengan apa yang di anggap kepintaran baginya.
Dan, orang-orang "pintar" ini terus dan terus berfikir sampai-sampai me-halal-kan segala cara untuk bagaimana terus hidup dan menguasai segalanya dengan menindas rakyat kecil, sampai-sampai mereka tega menyebarkan kebohongan-kebohongan (media) di hadapan banyak masyarakat. Sungguh mereka-mereka itu adalah orang-orang yang kehilangan akalnya jika saja mereka mengerti.
Kita mulai gundah dimana di era DEMOKRASI ini negara terus mengasuh para kapitalis-kapitalis untuk terus besar hingga sampai tidak ada celah bagi rakyat lagi kalau bukan hanya sekedar jadi seorang buruh (proletariat). Negara bukan mengasuh rakyatnya, malah-an terus-menerus mengembangkan para penghisap-penghisap darah msyarakat (kapital) untuk terus mengeksploitasi banyak orang, pemerintah tanpa sadar dan secara tidak langsung telah mendzalimi kita semua. Dan rakyat tidak lebih dari dijadikan sebagai budak/buruh untuk membantu para kapital untuk terus berkembang di negeri mereka sendiri.
Kini, Pemerintah berobah menjadi pelayan-pelayan asing yang hina, dan menjadi senjata pembungkam yang kejam untuk memerangi rakyatnya sendiri, kekuasaan di-simpangi dan dijadikan suatu alat yang dianggap legal dan sah untuk memotong lidah-lidah peng-kritik dan pengusik kekuasaan dan kedudukan mereka, beserta lahan garapan orang-orang asing yang di pertuan-nyonyakan.
Pada akhirnya, setelah kita menemukan kebenaran, apa yang musti kita lakukan;? Apakah bangkit melawan untuk hidup sebagai petarung. Atau, barangkali cenderung mati di-tenggelamkan oleh sejarah bersama-sama dengan ketidak adilan dan ke-tidak-benaran tanpa berbuat apa-apa. Dan saya sebagai rakyat jelata hanya punya jawaban begini; --Tidak akan di-beri celah sesikit-pun bagi sejarah untuk mencatat riwayat saya sebagai seorang yang di suatu masa pernah hidup dan is mati bersama-sama kebodohannya tanpa melaukan apa-apa.
Dari-situlah saya mulai sedikit berfikir dan kritis akan keadaan sosial bangsa dan negara ini.
Sebagai penutup, saya mengutip perkataan seseorang yang namanya masyhur; --Pertama: “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Kedua; Di-lahirkan, tapi mati muda. Ketiga; Yang tersial adalah berumur tua.-- (Soe Hok Gie)”.

Komentar
Posting Komentar