"LIBERALIZEM"


Jum’at pagi 12 Februari 2016, sebelum menunaikan shalat Jum’at di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, dan mendengarkan Tausyiah kutbah jum’at degan tema “Bahaya Liberalisasi”. Di pagi itu juga, saya mendapat kiriman tulisan dari teman (senior) saya yang dimuat dalam Serambi Opini. Yaitu, Nauval Pally Taran dengan Judul “Dis-Orientasi Ummat”.

Menarik saya menulisnya. Sebab ada korelasi antar tulisan Nauval PT dengan Tausyiah jum’at di Mesjid Raya. Sama-sama meyoal “penyakit pemikiran” yang berakibat pada kesalahan dalam berfikir dan berpemahaman. Menurut saya, adapun faktor terjadinya “Dis-orientasi ummat” bukan hanya sekularisasi semata. Tetapi sebagian besar di pengaruhi oleh liberalisasi dan modernisasi di segala bidang, yang setiap orang hampir tidak mampu membendung dan membatasi “kebebasan” global itu sendiri.

Sekularisasi itu mulai muncul kepermukaan adalah pada masa yang disebut dengan abad rasionalitas (setelah abad pertengahan). Manusia merasa telah menemukan diri dan dunianya sendiri yang telepas dari  bahasa kitab suci. Dengan demikian sekularisasi memperoleh momentum yang tepat sehingga siap menenggelamkan siapa saja yang melawan arusnya. Lanjut... Efek besar yang terjadi akbibat sekularisasi ini adalah lahirnya para kaum yang serba “materialis”, adalah orang-orang yang mengukur segala hal dengan pembangunan materi semata. [Nauval PT]

perlu saya terangkan disini bahwa "peradaban" adalah suatu konsep yang murni materialistik, apabila kemajuan materi tercapai maka terdapatlah kenikmatan dalam hidup ini, kenikmatan dalam hidup ini merupakan peradaban. 

Di Indonesia sejak zaman kemerdekaan sudah mengadopsi paham pemisahan antara Agama dengan Negara. Denagan demikian, menjadikan urusan Agama sebatas urusan pribadi manusia dengan Tuhan-Nya. Menurut paham ini, Agama termasuk Islam didalamnya cukup mengatur hubungan pribadi perorangan dengan Tuhan saja, namun kesepakatan hubungan-hubungan yang lain diatur pula dengan kesepakatan sosial.

Begitu pula dengan “liberalisme” yang mencapai puncaknya, sehingga mencuat kepermukaan dunia hari ini. Dimana liberalisme ini sudah mengakar didalam kehidupan masyarakat dunia, dan sama  halnya dengan kehidupan umat Islam sendiri,  “liberalisme” tanpa mengenal perbedaan dan buta terhadap toleransi lantas menyamaratakan seluruh aspek kehidupan POLEKSOSBUDAG (Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Agama), tak terkecuali kaum muslimin itu sendiri.

Pada tahun 2001, dimana awal kemunculan sebuah golongan/komunitas yang menamakan diri “Jaringan Islam Liberal” (JIL). JIL tersebut bukan hanya sekedar jaringan (network) namum lebih kepada sebuah gerakan pe-liberasian ummat. Penamaan JIL seolah-olah Islam identik dengan liberal, dan liberal identik dengan Islam. Harus kita luruskan bahwa Islam adalah Islam dan liberal adalah liberal. Liberal ini beretentangan dengan ajaran Islam. Maka jangan sekalli-kali diatara kita mengidentikan Islam dengan Liberal. Mengapa persoalan ini menjadi penting bagi kita. Ternyata liberalisme tidak hanya mnyentuh ranah pemikiran, tapi saat ini sudah menyentuh ranah aqidah dan ideologi umat Islam, terutama umat Islam di Aceh. [Tausyiah jum’at]

Ada kelompok anak muda di Aceh ketika tanggal 25 Desember 2015 lalu, ramai-ramai mengucapkan selamat natal kepada umat kristen. Atas nama toleransi, paham liberal ini membernarkan ucapan itu. Sedikit kita singgung persoalan ini. Bagaimana kita mengucapkan selamat, kepada orang-orang yang jelas kesesatannya, kita percaya kepada Nabi Isa as dan kita mengimani Nabi Isa sebagai rasul, tapi disaat yang sama keitka ada orang-orang yang mengucapkan natal, orang-orang kristen mempercayai dan meyakini Nabi isa as itu sebagai anak Tuhan dan Yesus Kristus. Pertanyaan kita kemudian bagaimana kita mnegucapkan selamat kepada orang-orang yang jelas kesesatannya. Sekali lagi saya katakan bahwa atas nama toleransi dan budaya global, liberalisme membenarkan ucapan itu. [Tausyiah jum’at]

Mengenal ciri-ciri liberalisme hasil buah pikir barat ini, siapakah dan bagaimanakah mereka sesungguhnya. (dalam Nauval PT: Barat adalah suatu peradaban yang tidak pernah konsiten, yang sekali-kali mereka lari dari satu kutub ekstrem ke kutub ekstrem yang lain. Dari modern ke post modernisme, dan begitu seterusnya). Sangat berbeda dengan Islam yang mempunyai sudut padang hidup tersendiri (Islamic worldview) suatu hal yang mutlak (absolute)  yang tidak bisa dinegosiasikan lagi. Yaitu sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasullullah Muhammad saw. Menurut yang lain; liberalisme itu adalah suatu paham yang mengutamakan logika dan pemikiran semata-mata. Oleh barat dinamakan ini sebagai abad pencerahan. Orang-orang yang menganut paham ini, ketika dihadapkan dengan satu doktrin agama yang bersumberkan kepada Al-Quran dan Sunnah yang bertentangan dengan akal pikiran mereka, maka mereka menolak itu semua. Jadi, dapat di katakan bahwa liberalisme itu adalah penyakit pemikiran yang sangat berbahaya bagi kita. Liberalisme adalah segala macam bentuk komplikasi penyakit pemikiran yang memunclkan virus yang dapat mematikan akal fikiran serta iman kita sebagai umat muslim.

Liberalisme pula telah mengakibatkan penyakit yang “menggilakan” bagi pikiran kita. [Oleh tausyiah jum’at] Ada tiga virus yang sangat berbahaya yang ditimbulkan oleh liberalisme ini.  Pertama ialah “relativitas” kedua meragukan universalitas ajaran Islam, ketiga tidak mempercayai kehidupan setelah mati.

Paham liberalisme berhasil menanamkan keyakinan sebagaian besar orang-orang bahwa semua kebenaran itu “relative”, tidak “absolute” termasuk kebenaran Agama Islam yang bersumberkan kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Akibat dari paham relativitas yang disebabkan oleh liberalisme ini ialah muncul paham yang sering kita dengar dengan istilah “pluralisme” ialah suatu paham yang menyamakan semua Agama. Paham pluralisme ini mengatakan kepada kita sebagai penganut Agama Islam tidak boleh meng-klaim diri sebagai Agama yang benar, sementara penganut Agama yang lain itu salah. Karena menurut paham pluralis ini semua Agama yang ada berkedudukan sama dihadapan Allah SWT. Parahnya lagi dikatakan dalam paham ini ialah surga nanti di hari akhirat sudah di kapling-kapling (dibagi) oleh Allah SWT, ada surga bagian Islam, surga bagian Kristen, surga bagian Budha, Hindu dan Kognhucu. Yang pada dasarnya semua Agama menurut paham ini berkedudukan sama disisi Allah SWT.

Jika kita memperhatikan ajaran Islam, paham pluralisme ini haram untuk diikuti dan diamalkan. kita merujuk peda fatwa Ulama pada tanggal 28 september 2005 lalu, lewat musyawarah nasional ke VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menfatwakan bahwa pluralisme, liberalisme, sekularisme dan isme-isme yang lain turunan dari paham ini haram hukumnya untuk diikuti dan diamalkan oleh umat Islam. Akan tetapi, liciknya orang-orang liberal ini mengkampanyekan kepada umat Islam yang ada di Indoensia, mereka mengatakan bahwa Fatwa Ulama ini bukan hukum, karena bukan hukum maka tidak wajib di ikuti umat Islam di Indonesia mengikuti fatwa ini. Muncul pertanyaan kita kemudian, kalau bukan Ulama yang kita ikuti, lalu siapa lagi mesti kita ikuti di dunia ini? Ketika fatwa Ulama ini menjelaskan paham-paham tersebut adalah haram. maka, bagi kita umat Islam wajib mengikutinya.


Ironisnya lagi adalah ketika orang-orang berpaham liberal menyamakan Istilah “Pluralitas” dan “Pluralisme”. Ini yang harus kita garis bawahi, mereka sering menggunakan kalimat “pluralitas” yang mereka sandingkan dengan istilah “pluralisme”. Ini yang harus kita bedakan antara pluralitas adalah “kemajemukan Agaman dan kemajemukan suku bangsa”. Islam mengakui kemajemukan itu. Namun tidak dengan “pluralisme” yang menyamakan semua Agama.

Sebagai bukti pembenar, ketika Rasullullah saw hijrah dari mekkah ke madinah yang pada saat itu Rasullullah mampu menyatukan dan mendamaikan permusuhan yang terjadi selama bertahun-tahun di kota Yastrib, padahal saat sebelum itu tidak ada satu orang pun dan satu komunitas pun yang mampu mempersatukan mereka. Nabi Muhammad saw hijrah ke madinah pada waktu yang tepat dan  menjadi orang yang tepat pula untuk mempersatukan mereka. Dengan itulah Nabi Muhammad saw membuat Piagam Madinah, kesepakatan bersama dengan seluruh penganut Agama yang ada di kota Madinah, dan seluruh Kabilah beserta suku bangsa yang ada disana. Rasullullah saw mampu mengakomodir seluruh kepentingan mereka didalam Piagam madinah tersebut.

Jadi, dengan begitu Rasullullah saw mengakui “pluralitas” (kemajemukan) tapi tidak dengan “pluralisme” yang menyamakan semua Agama. Sejak di Madinah Rasullullah saw sering membuat surat dakwah untuk dikirimkan kepada raja-raja besar diseluruh pelosok negeri pada waktu itu untuk mengajak memeluk Agama Islam, mulai dari Persia, Romawi, Afrika, dan lain-lain. Akan tetapi tetap sama isi surat tersebut ialah mengajak untuk memeluk Agama Islam, Karena Islam-lah satu-satunya Agama yang diterima disisi Allah SWT. Artinya Nabi Muhammad saw mengakui pluralitas, tetapi tidak dengan pluralisme. Karena hanya Islam lah Agama satu-satunya yang benar di sisi Allah SWT. Maka dari itu. Mulai saat ini, marilah sama-sama kita berkampanye bahwa --“PLURALITAS” YES namun PLURALISME NO”-- . kita mengakui kemajemukan Agama, suku bangsa. Namun tidak dengan kesamaan semua Agama. Karena Islam itu tinggi, Tidak ada yang lebih tinggi daripadanya.

Kedua virus liberalisme yang sangat mematikan bagi kita hari ini adalah virus yang meragukan ke universalitasan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut paham ini, Al-Quran dan Islam cukup mengatur masalah ketentuan Ibadah saja, tidak lebih daripada itu. Sehingga penyakit dari paham ini timbul satu paham yang lalin yang sering kita dengar denan “Sekularisme” yang memisahkan perkara Agama dengan dunia. Menurut paham ini, Agama termasuk Islam didalamnya cukup mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan saja, namun kesepakatan hubungan-hubungan yang lain cukup diatur dengan kesepakatan sosial saja. Maka dari itu banyak perkara-perakara yang menyimpang terjadi di lingkungan masyarakat kita, temasuk LGBT, itu semua disebabkan oleh sekularisme. Karna bagi mereka Agama cukup mengatur perkara pribadi manusia dengan Tuhan.

Ketiga virus yang juga sangat berbahaya yaitu virus yang mentahayulkan sesuatu yang ghaib. Menurut mereka tidak ada suatu kehidupan setelah mati. Ada  pula sebagian dari mereka bahwa Tuhan hanya mitos, bahwa Tuhan itu tahayul. Menurut paham ini, Agama termasuk Islam didalamnya perlu direproduksi ulang dengan standar logika dan rasio manusia yang benar. Akibat dari virus ini muncul sebuah penyakit yang sering kita dengar dengan istilah “rasionalisme” adalah satu paham yang menuhankan logika, suatu paham yang menuhankan akal pikiran. Dan apabila kita datang kepada mereka dengan menyodorkan Al-Quran dan Sunnah Rasullullah saw yang merupakan doktrin didalam Islam, dan apabila itu bertentangan dengan akal pikiran, maka mereka menolak semua doktrin itu.

Oleh karena itu marilah sama-sama kita bersatu padu. Liberalisme hari ini menyerang anak-anak muda kita di Aceh. Mereka masih labil dan cepat terpengaruh dengan paham-paham yang sangat menyesatkan ini, kalau kita tidak bersatu, kalau kita tidak memiliki ukhuwah islamiah di Aceh secara khusus, mustahil kita bisa menghalau berbagai macam pemahaman pemahaman keliru ini, yang menyesatkan umat Islam. Terutama generasi muda Islam Aceh. Perbanyaklah persamaan diantara kita, hindari konflik-konflik, hilangkan sama sekali perbedaan-perbedaan antara kita. [Tausyiah jum’at]

Begitupan dengan Nauval Pally Taran yang menawarkan solusi kepada ikhtiar re-orientasi umat melalui konseptualisasi dan manifestasi pendidikan Islam dengan merujuk kepada padangan Islam (Islamic worlview). Didalam tubuh ummat sekarang ini, pendidikan perlu dihadirkan kembali sebagai upaya pemerataan kesadaran bahwa hidup bukanlah ajang menumpuk kekayaan dan memulung segudang tepuk tangan. Pendidikan umat Islam secara benar mesti di bangun fondasinya kemabli.

  

Komentar