Pada
tanggal 2 Desember 1973 oleh minggu Abadi
dimuat uraian tulisan Prof. Ismail Suny, S.H., M.C.L. dengan judul: “Pelabuhan Susoh di Aceh
Selatan, Keadaan Fasilitasnya sangat Menyedihkan”.
Sebelum
pemekaran Aceh Selatan dengan Aceh Barat Daya (ABDYA), Susoh adalah suatu
perdesaan yang inklut kedalam yurisdiksi Kabupaten Aceh Selatan. Pemekaran
tersebut bukan saja ekses (peristiwa) dari reformasi 1998. Perubahan
ke-pemerintahan dari orde baru ke reformasi ikut memberikan daya dalam
percepatan Pemekaran Kabupaten tersebut, demi kepentingan percepatan
pembangunan dan kesejahteraan. Tak luput juga oleh perjuangan para tokoh-tokoh
Abdya pada masa itu. Ide pemekaran bukan suatu hal baru yang diperjuangkan oleh
tokoh-tokoh beserta masyarakat Abdya, tetapi maksud tersebut sudah sejak tahun
1960-an diwacanakan terhadap daerah yang mempunyai banyak sebutan itu,
diantaranya: Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Bumi Cerana, Tanoh Mano Pucok,
Tanoh Breuh Sigupai, Alue Maleem Diwa, dan lain sebagainya.
Kembali
ke Uraian Prof. Ismail Suny mengenai mirisnya keadaan fasilitas Pelabuhan
Susoh, dalam suatu perjalanan singkat ke Aceh Selatan, beliau berkesempatan
menyaksikan keadaan pelabuhan Susoh, disamping Tapak Tuan dan Singkil merupakan
pelabuhan hasil hutan, salah satu pelabuhan terletak di ujung barat Indonesia
yang berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada waktu itu pelabuhan Susoh
termasuk pelabuhan golongan C dimana kapal-kapal berukuran 1.000-3.000 ton
dapat berlabuh. Pada musim angin Utara-Barat yaitu pada bulan Mei-Juli
kapal-kapal dapat berlindung di Teluk Susoh (Pulau Kayu) dan pada musim angin
Selatan yaitu pada bulan November-Desember di Teluk Baruh (Ujung Serangga).
Keadaan
fasilitas pelabuhan sangat menyedihkan sekali, jangankan berbicara mengenai cargo handling equipments seperti mobile crane forklift, low bed trailer atau-pun all wheel tractor seperti fasilitas di
pelabuhan saja tidak ada di Susoh.
Kalau
saja tidak ada dermaga (kurang lebih 50 meter dari pantai) yang diperbarui
papannya oleh PT Socfindo (Joint venture Belgia dan Indonesia) yang mengekspor
minyak kelapa sawit dan biji sawit dari pelabuhan susoh, kita akan mengatakan
bahwa pelabuhan itu hanyalah pelabuhan alam semata-mata. Ditambah lagi
kapal-kapal harus berlabuh kurang lebih 200-300 meter dari pantai, maka keluar
masuk tongkang-tongkang dari muara Sungai Susoh sangat tergantung kepada
keadaan pasang-surut.
Beliau
mengutip buku Dr. Anthony Reid, The
Contest For North Sumatra (Aceh the Netherland and Britain 1858-1898)
Seorang Indonesia Aceh yang berjiwa Pengusaha Leube Dapa, yang menjadi “Chief
of Susoh” pada tahun 1820 telah mengekspor 150.000 pikul (kurang lebih 10.000
ton) lada, separuh dari produksi dunia pada waktu itu di ekspor dari pelabuhan
Susoh. Sebagian besar dari suplai lada dari Aceh bagian Selatan itu bukan
dibeli oleh VOC tetapi oleh saudagar-saudagar dari Salem dan Boston (Amerika
Selatan). Dua puluh satu kapal Amerika mengunjungi “peppercoast” Susoh di tahun 1802, dan mereka terus-menerus
mendominir perdagangan lada itu hingga tahun 1950, disamping kapal-kapal India,
Prancis dan Arab.
Susoh
sebagai peabuhan lada mulai mundur setelah kesuburan tanah di pantai Selatan
Aceh kian merosot (pupuk belum dipakai pada waktu itu) dan dengan munculnya
pelabuhan-pelabuhan baru di Aceh Barat seperti: Patek, Rias, Tunom dan Melaboh
disekitar tahun 1830. Dan dengan berkembangnya pelabuhan antara Lhoksemawe dan
Tamiang di tahun 1850 peranan Susoh kian terdesak.
Dalam
hal Upgrading pelabuhan Susoh ialah tugas dari Departemen Perhubungan Republik
Indonesia, mengingat peranannya pada waktu itu sebagai satu-satunya pelabuhan
hasil hutan, perkebunan dan pertanian di daerah Aceh bagian Selatan. Pelabuhan
ini dipergunakan untuk pengangkutan kayu dari kelompok hutan Krueng Sapi-Krung
Batee. Oleh perkebunan PT Socfiindo yang lebih kurang 3.000 hektar perkebunan
kelapa sawitnya, dari pelabuhan Susoh diekspor lebih kurang 3.500 ton minyak
kelapa sawit dan lebih kurang 700 ton biji sawit setiap tahunnya.
Selain itu
hasil pertanian rakyat seperti beras (surplus), pala, cengkeh dan minyak nilam
dan lain-lain dikirim ke luar daerah melalui pelabuhan Susoh.
Departemen
Perhubungan RI kalau berprinsip “Harbour follows the trade” (pelabuhan baru dikembangkan
kalau volume perdagangan di daerah tersebut sudang berkembang), sudah wajar
kalau dari sekarang telah membangun pelabuhan Susoh, ditambah-lagi mengingat peranan
peranan pelabuhan-pelabuhan di Samudera Indonesia di masa depan sehubungan
dengan masalah Selat Malaka. Apalagi kalau berprinsip sebaliknya “Trade follows
the harbour” (pelabuhan dikembangkan lebih dulu untuk ikut
mengembangkan/menciptakan kemajuan perdagangan di daerah tersebut). Hal
terakhir ini berhungungan dengan potensi daerah Aceh Selatan, terutama
Kecamatan Kuala Batee dimana sedang dilakukan Feasibility study oleh Konsultan
dari Jakarta tentang kemungkinan Pelletzing planation/factory dan lain-lain di
Kecamatan Kuala Batee.
Walaupun
tersedia tanah yang luas dan dapat ditanami singkong (cassava), atau
tanaman-tanaman lain dengan buruh yang tersedia dan modal yang cukup, tetapi
kalau fasilitas pelabuhan sangat minim kapal harus berhari-hari memuat barang,
maka cita-cita untuk membangun perkebunan yang modern di Kuala Batee itu tidak akan
dapat dilaksanakan.
Pada tanggal 29 Desember 1973 Harian Abadi mengadakan wawancara dengan Prof.
Ismail Suny, diantaranya Prof. Mengungkapkan: kemelut yang kita hadapi sekarang
adalah akibat dari tidak berjalannya Mekanisme Demokrasi. Mungkin rakyat tidak
sabar lagi menunggu, oleh karenanya harus ditempuh jalan pendek. Langkah dalam
segala bidang.
Demikianlah
kupasan (korektif serta solusi) yang dikemukakan beliau mengenai kemirisan
keadaan fasilitas pelabuhan Susoh oleh Profesor kelahiran Labuhanhaji 7 Agustus
1929 ini.
Komentar
Posting Komentar