Ulang Tahun Ke-23

Alm. Gracias and Mucos

Umur adalah deretan angka yang setiap tahunnya terus meningkat. Pertumbuhan usia bukanlah kuasa manusia, karena ia terjadi begitu saja dengan sendirinya. Manusia sungguh tidak punya kuasa untuk memperlambat atau mempercepat pula kedatangannya.

Ketika kita mencoba berfikir sedikit lebih dalam tentang apa itu hidup. Maka, orang-orang yang berfikir tersebut akan bingung dan keragu-raguan untuk menemukan jawaban yang tepat tentang esensi dari hidup tersebut. Karena hidup bukan saja untuk mendapatkan pendidikan atau-pun pekerjaan, berkeluarga serta mempunyai keturunan. Apalagi orang yang hidupnya hanya untuk makan, begitu pula sebaliknya, makan untuk hidup. Apakah hidup sesempit itu?

Realitas siklus kehidupan secara awam kita melihat manusia itu dilahirkan sebagai seorang bayi, terus menjadi balita, remaja, dewasa hingga menjadi tua bangka. Begitu pula-lah seterusnya dengan tidak berubah-ubah. Kehidupan dan kematian ialah hukum alam yang kodrati, tidak pernah bergeser dari ketetapannya. Seperti kehidupan itu dari tiada menjadi ada, kemudian ia kembali ke-ketiadaannya.

Karena tidak akan mungkin dan tidak akan mampu manusia untuk membolak-balikkan keadaan alam yang seperti itu. Misal saja kelahiran kita putar balik keadaan realitas yang sebenarnya dari bayi, balita, remaja, dewasa dan tua bangka, dibalik manusia itu lahir dari tua terlebih dahulu, terus dewasa, remaja, balita hingga menjadi bayi dan mati.

Tetapi, setiap orang-orang yang berfikir dan berakal, pastilah ia mencari dan menemukan hakikat dari kehidupan ia sendiri. Setiap orang-orang yang seperti itu, ia mempunyai perspektif tersendiri dalam memaknai kehidupnya.

Sebagaimana kita ketahui, sudut pandang seseorang itu tidak bebas nilai, melainkan sesuai dengan informasi, pemahaman serta keilmuannya. Itulah sebab terjadinya benturan-benturan lintas pemikiran, karena ketidak seragaman cara berfikir.

Orang-orang yang mengadopsi konsep yang murni materialistik, memandang kehidupan itu dari kacamata kesejahteraan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan strata sosialnya. Jika kenikmatan ekonomi telah didapat, barulah mereka merasa benar-benar hidup. Misal saja berpendidikan tinggi dan mendapatkan gelar, mempunyai pekerjaan tetap, gaji yang tinggi, dan suskes dalam bisnis dengan keuntungan yang besar di setipa tahunnya.

 Di bagian yang lain lagi, mereka memandang hidup itu ialah sebagai kemerdekaan individual, yang terlepas dari lingkungan dan hubungan sosilanya, cenderung tidak ingin terikat dengan beban moral, menafikan segala gejala-gejala sosial yang terjadi di sekitarnya. Tidak jauh berbeda dengan yang diatas. Sama-sama berpijak atas kepentingan ke pribadian.

Tentulah jika kita terus berfikir tentang apa itu kehidupan, maka hidup ini akan terus menjadi pelik dan sulit. Serta tidak mampu kita merangkai dan menerjemahkan jawabannya dengan konkrit.

Begitulah luasnya makna kehidupan, ia tidak bisa kita defenisikan semudah dan sesempit itu, melainkan jawaban pertanyaan yang musti kita jawab ini ialah sukar. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Sederhananya, di setiap waktu, hari dan tempat kita telah memberikan jawabannya. Jawaban itu ada di keseharian kita, terhadap apa yang kita fikirkan, kerjakan dan lakukan.  Karena, sebenarnya kita setiap hari memberikan cerminan atas apa itu hidup.

Lalu bagaimana dengan kehidupan saya sendiri? 18 februari 2016 saya menduduki umur 23 tahun. Jika di timbang-timbang, 23 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Apakah dengan angka tersebut saya sudah mendapatkan defenisi final tentang kehidupan? saya rasa belum. Maka, ini yang mungkin menjadi tantangan yang harus di pecahkan kedepan.

Untuk 18 februari ini, saya ucapkan terimakasih yang teramat kepada seseorang yang istimewa bagi saya, yang selama ini terus menemani, peduli dan perhatian. Ia adalah Cut Nanda Risma Putri. Semoga segala kebaikannya selama ini dibalas oleh Allah SWT. Aamiin Yarabbal ‘alamin.

Terimkasih juga kado dan suratnya, ini hadiah yang luar biasa bagi saya, karena sebelumnya belum ada yang memberikan saya kado ulang tahun yang seperti ini. Begitu juga dengan surat-surat yang berisikan firman-firman Tuhan. Agar saya tidak lalai dalam meninggalkan ibadah dan untuk terus bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Komentar