"Fair! Tolak-Menolak Pemekaran"


Desas-desus pemekaran, saya cuma ingin mengungkapkan pikiran tentang perbedaan dua politikus Aceh.
Saya rasa ada perbedaan yang prinsipil dari dua politikus muda Aceh itu, dan sama-sama bersal dari partai berkaliber lokal.
Secara kasar tidak jauh beda. Yang satu Dewan Perwakilan berkaliber nasional untuk lokal (DPD). Dan satu lagi Dewan Perwakilan berteritori lokal (DPRA).
Saya ungkapkan perbedaan dan persamaan mereka sedikit saja.
Persamaannya adalah sama-sama menolak pemekaran!
Mungkin penolakan tersebut banyak aspek yang mereka pertimbangkan, dan pertimbangan tersebut tidak musti saya tuliskan; karna bukan itu duduk masalahnya.

Karena yang ingin saya tekankan adalah perbedaan mereka:
"Teritori Lokal" ini; menolak pemekaran dengan pertimbangan kajian, diskusi, analisis, serta argumentasi intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis dan politis. Sehingga tidak menebar kebencian dan kemurkaan.
Dan pun, secara person dan karismanya tidak membuat pertentangan, meskipun ia seorang yang kritis. kekukuhan idealisme dan kegigihan perjuangannya di dua "dimensi" (gunung & jalanan) membuat ia tetap di segani, di sukai, bahkan di cintai masyarakat. Terutama kaum muda, begitu ia menjadi inspirasi kaula muda, terutama aktivis mahasiswa. Tak terkecuali saya, begitu kagum mendengar riwayatnya. Beberapa ide cemerlangnya baru-baru ini yang saya saksikan, ialah sebagai upaya memodernkan "kenderaan"nya. Nyata! Dan begitu masif.
Sedang kaliber nasional untuk lokal tadi saya tidak tahu mau tulis tentang ia bagaimana. Bukan sebab saya subyektif, tetapi memang begitu adanya. Yaa... begitulah... seperti di pemberitaan media ini. Ia sedikit kontradiktif.

Komentar