GADO-GADO PEMEKARAN ALABAS

Tulisan gado-gado (campur aduk) ini berdasarkan analisi kajian non akademis, alias “cong-corang.com”(abal-abal), tetapi sedikit banyak bersandar kepada berbagai reaksi fenomenal warga pesbuk, apalagi masalahnya kalau bukan pemekaran daerah (ALABAS). Sepengamatan saya di berbagai status pesbukers, komentar, dan lain sebagainya menyoal pemekaran Alabas, serta pemberitaan di media-media massa beserta komentar-komentar yang menggelikan, membuat saya semakin ngeri dengan era globalisasi ini. Zaman sekarang, perang tidak lagi seperti zaman dahulu menghunus pedang, media sosial pun menjadi medan peperangan yang patut ditakutkan.
Fenomena media sosial hari ini mudah sekali untuk mengangkat dan menjatuhkan jabatan, martabat dan harga diri seseorang.  Serta  mudah juga untuk melambungkan popularitas seseorang tertentu. Tentu Harus pula didukung oleh momentum-momentum yang ada. Seperti apa yang kita alami hari ini, pemekaran yang sampai hari ini masih menjadi momok bagi masyarakat kita.
Jika kita menilai fenomenal pemekaran ini. Memang banyak sekali perspektif serta pendekatan-pendekatan yang bisa kita gunakan untuk menjawab permasalahan ini. Sudah barang tentu beda sudut pandang berbeda pula jawaban serta solusinya. Tetapi beginilah adanya, pro dan kontra terhadap pemekaran tidak ada kunjung hentinya. Tidak sedikit juga membuat kita dilema serta serba salah dalam menyikapinya.
Fenomena warga pesbuk jika kita amati secara seksama mengenai pemekaran ini ada tiga variannya. Pertama Setuju, alias sepakat pemekaran, kedua menolak pemekaran, ketiga ragu-ragu atau belum punya pillihan, terintegral bersama mereka-mereka yang tidak punya pilihan apa-apa. Bahkan ada juga yang tidak tahu menahu. Sebab, mereka sukanya tempe. Tapi begitulah, pemekaran menjadi komplikasi yang kompleks bagi masyarakat kita.
Kelompok yang kita bagi kepada tiga diatas yang pertama katakan saja kelompok “pejuang” tetapi bukan pejuang kemerdekaan angkatan 1945 ya. Bukan juga pejuang reformasi 98, apalagi pejuang “Gerakan Papua Merdeka”. Tapi adalah pejuang saja, kalaupun ditambah kalimat pelengkapnya adalah “pemekaran”, jika digabungkan menjadi “pejuang pemekaran”. Tapi saya bingung memberikan motto apa untuk semangat perjuangan ini, jika biberi kata “revolusi” gak ada logikanya sama sekali, masak pemekaran daerah semangatnya revolusi. Reformasi juga tidak ada singkronisasinya. Apa restorasi aja kali ya? Entah apalah itu namanya bebas aja.
Tetapi, banyak yang mengatakan isyu pemekaran ini muncul ketika menyambut momentum pilkada, atau pemilukada, atau bahasa sekarang itu pilgub. Udah kayak hari “meugang” aja menyambut momentum bulan puasa ya. Ya sudah lah, entah memang begitu sebenarnya, entah bagaimana. Saya juga bingung. Tapi, kata para “pejuang” pemekaran untuk kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. Ada bagusnya juga yaa, yuk kita dukung. Tapi, ada yang bilang juga pemekaran ini sebagai barang jualan, sebab sudah dekat pemilu. Bingung juga kan?
Saya juga pernah mendengar orang-orang mengatakan pemekaran itu ajang bagi-bagi kueh kekuasaan. Hah! Pemerintahan itu seperti adonan ya? Kok bisa jadi kueh, ngauurr. Tapi sosialisasi pemekaran, serta menghimpun pendapat serta dukungannya sudah saya saksikan dari jauh-jauh hari. Kok ada yang mengatakan itu cuman momentum pemilu? Bahkan ada yang katakan juga udah dari tahun 90-an lho. Sudah lama sekali ya. Berbagai ragam diskusi, pertemuan, lobi-lobi politik kencang dilakukan. Lobi-lobi yaa!! bukan labi-labi! jangan salah-salah kira. Labi-labi itu mobil angkutan umum, urusannya tarik sewa darussalam ke kota.
Pemberitaan media massa pun begitu hangat tak pelak juga menimbulkan perdebatan yang kontroversial, bahkan sengaja mengadu-adu argumen dan pendapat menyoal pemekaran. Bukan adu domba, tapi adu argumen. Yang satu mengatakan segera dimekarkan. Eh... satunya lagi bilang tidak ada pemekaran, ditambah lagi dengan bersebaran berita Rancangan Undang-Undang tentang pemekaran tidak masuk program legislasi nasional tahun 2016 ini, membuat riyuh para warga pesbuk, saling serang menyerang. Kalau lah saja pesbuk bisa keluar senjata api atau pedang, mungkin saja sudah banyak jatuh koraban. Syukur-syukur lah kita sebab kejeniusan Bergek tidak melampaui itu, sehingga Bergek tidak bisa membuat senjata beneran di pesbuk miliknya. Ops, maksud saya Mark Zuckerberg, bukan Bergek. Si Bergek itu kan seorang pelawak yang beralih profesi jadi penyanyi, mana mungkin bisa dia buat pesbuk, kadang saja lagunya mesti jiplak dulu. Belum lama populer saja sudah banyak ulahnya, kan baru-baru ini diberita pentasnya Bergek di obrak-abrik dan dibakar oleh masyarakat, untung saja para crewnya cepat diamankan pak polisi, kalau egak pasti deh udah bonyok di hamboe bang baron.
Hampir saja saya lupa dengan subtansi pemekaran, tok tok gara-gara Bergek.
Begitulah desas-desus pemekaran yang masih saja bergulir sampai hari ini, entah sampai nanti, entah sampai kapan saya juga egak tahu. Semoga soal pemekaran ini cepat menemukan titik konvergensinya. Kalau mekar ya bagus, kalau egak ya gak papa. Egak jadi mekar pun kan kita masih bisa sruput kopi sikhan juga, iyakan? Gak mungkin juga gara-gara tidak mekar kita jonpus alias jones mampus.
Terkadang kita ada benarnya kata Gus Dur ya, kalau DPR itu sudah kayak taman kanak-kanak.  Bertingkah-tingkah terus di parlemen dan di media massa. Ngomong suka beda-beda, padahal sumber masalahnya sama. hari ini ngomong A, eh besok udah ngomong A lagi, besoknya lagi ngomong A juga, hey Dewan! kapan Beeee-nya,? kan kita orang awam ini kan yang menjadi bingung, dibuat pusing tujuh keliling. Entah pusingnya keliling dunia, ada enaknya juga. Dewan-dewan itu kerjaannya berdebat aja sesamanya, selalu dalih memperjuangkan rakyatnya, padahalkan di KTP tulisannya warga negara Indonesia, bukan warga dewan. Kok aneh begitu ya. Entah lah, apalah daya. Untung nasib kita gak kayak konser Bergek di amuk massa.
Ah..sudahlah gosipannya yaa...
Tetapi kenyataannya hari ini ya begini, sosial media selain bisa menjadi tempat penyampaian aspirasi, juga tak sedikit orang-orang yang menggunakannya sebagai media pencaci maki. Sudah banyak sekali para Profesor, peneliti, pengamat, komentator yang diciptakan media sosial terutama pesbuk, tapi sayangnya mereka tak kunjung di sertifikasi atau diberi ijazah. Mungkin ini ide yang menarik juga untuk kita usulkan ke Mark Zuckerberg untuk mendata para pegiat, aktivis, akademis dan dokter-dokter pesbuk ini agar diberikan ijazah sebagai tanda lulus sensor. Oh ya.. satu lagi, fenomena wall pesbuk yang mampu mengalahkan update portal news. Tolong ya, ingatkan kepada Direktur perusahaan media baik cetak, majalah, bahkan online, jangan sampai di koh can, nanti bisa bangkrut. Orang sudah pada suka baca beranda pesbuk, karena komplit pembaruannya, walau sebenarnya sih banyak yang hoak juga. Tapi setidaknya sudah mebantu para profesor-profesor wall pesbuk dalam penelitian dan sosialisasi keilmuannya , udah boleh lah. Udah gitu aja.

  

   


Komentar