PERANG ANTARA RECHSTAAT (HUKUM) DAN MACHSTAAT (KEKUASAAN)
Dinamika politik
menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang kian menyita perhatian
publik seluruh Indonesia. mengapa demikian, dan mengapa selalu mencuri
perhatian publik yang sangat luar biasa oleh daerah istimewa tersebut? Sebab,
mengutip pernyataan Yusril di Jak.tv adalah “Jakarta sebagai Daerah
Khusus Ibukota, merupakan milik seluruh rakyat Indonesia, bagus jakarta
bagus Indonesia, rusak binasa Jakarta, rusak binasa juga Indonesia”. Selain itu, Yusril yang bertekad bulat
untuk maju sebagai calon Gubernur DKI ini menegaskan lagi bahwa Jakarta adalah
sebagai cerminan bangsa Indonesia. Dengan demikian, patut kiranya menurut kita
bahwa dinamika perpolitikan DKI Jakarta ini mendapatkan perhatian lebih dan
menjadi pusat perhatian dari masyarakat Indoensia, media, bahkan dunia maya, di
dalam perkembangan perpolitikan nasional. Kendatipun perkembangannya begitu
menarik untuk kita ikuti. Di tambah lagi dengan kehadiran sosok seorang tokoh
seperti Yusril Ihza Mahendra yang kita kenal selama ini sebagai mantan menteri,
dan Speech writer (penulis pidato) tiga Presiden
Republik Indonesia (Suharto, Habibi, SBY), dan salah seorang penyusun konsep
pidato pengunduran diri Presiden Suharto di 21 mei 1998 silam. Di bidang hukum
tidak perlu diragukan lagi, sampai dengan hari ini Yusril adalah salah seorang
ahli di bidang hukum tata negara termasyhur,
beserta kepakarannya yang sampai dengan hari ini masih begitu fenomenal di
kalangan rakyat Indonesia.
Secara awam,
menurut peta kondisional politik kekinian boleh kita menduga bahwa kemungkinan
besar head to head seperti apa yang di inginkan oleh Yusril
ada kemungkinan besar akan terjadi. Oleh karena, sampai saat ini kita melihat
belum ada tokoh-tokoh lain muncul ke publik yang bisa menyeimbangi baik secara
popularitas ataupun elektabilitas dari Yusril Ihza Mahendra putra kelahiran
Manggar, Belitung 5 februari 1956 ini.
Apabila head
to head benar adanya. Maka, ini bukan saja sekedar pertarungan dua
putra asal belitung, melainkan lebih dari itu. Pertama, pertarungan
politik pilkada DKI 2017 nanti di dominasi oleh “perang” antar dua kandidat
yang sama sekali berbeda dari segala lini, apakah dari perspektif hisrtoris,
garis keturunan, agama, karir akademik (hukum), serta sudut pandang (ideologi)
politik diantara mereka itu.
Lebih daripada
itu, melihat track record dari kedua bakal calon ini, apabila
benar head to head di mungkinkan terjadi, maka ini adalah
perang pemikiran dan sikap perilaku politik yang saling kontradiktif antara
satu sama lain. Di satu sisi Yusril muncul dengan perilaku politik rechtstaat atau rule
of law, yang lebih menekankan penegakan kepastian hukum dan keadilan,
serta perilaku-perilaku politik yang lebih bersifat humanistik atau menjamin
hak-hak asasi masyarakat. Bagi Yusril, sifat kepemimpinan yang menghargai satu
sama lain, kegotong-royongan dan tidak memaksakan kehendak pengusa lebih di
prioritaskan, dengan maksud lain ketegasan dalam penegakan hukum jangan sampai
menimbulkan akibat hukum lainnya, sehingga tidak menimbulkan kerugian yang
lebih besar lagi. Sebab, pemimpin haruslah mengedepankan sikap aspiratif dan
kompromis dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial kemasyarakatan
dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di berbagai sekmen
atau kelas-kelas sosial. sehingga dengan begitu barulah terciptanya
pemerintahan yang harmonis dan humanis, tanpa adanya pemaksaan kehendak dan
perampasan hak-hak hidup masyarakat sebagai warga negara yanng dijamin oleh
konstitusi. dan Yusril juga menekankan bahwa
menjunjung tinggi etika politik
itu sangatlah di perlukan.
Di samping itu,
Yusril dengan santai dan tenang dalam hal menanggapi berbagai perkembangan
politik DKI Jakarta hari ini yang demikian carut-marutnya, tak terelakkan juga
baginya untuk menklarifikasi berbagai fitnah
yang di lancarkan oleh mereka-mereka yang mempunyai pemikiran berseberangan. Demikian pula Yusril mulai giat melakukan
silaturrahmi politik antar tokkoh-tokoh partai politik dan juga bakal
calon yang menyatakan diri akan maju di pilakda 2017 mendatang. Selain itu juga
Yusril mengatakan bahwa ia berusaha untuk membangun sebuah tradisi politik baru,
sebagaimana pernah dilakukan oleh para generasi tua dahulu. Yusril mengisahkan
sebuah cerita tentang seorang tokoh partai Masyumi yang merupakan gurunya
sendiri yaitu Muhammad Natsir, pernah mengatakan begini “saya itu kalau di sidang parlemen,
kalau menurutkan perasaan marah rasanya saya mau angkat kursi, lalu saya
hempaskan keatas kepala DN. Aidit. Tapi sesudah sidang saya pergi ke warung,
kok sudah ada kopi di tempat biasa saya duduk. Lalu Aidit datang, mengatakan
ini kopi saya sediakan buat saudara, sembari DN. Aidit membawa kopi juga,lalu
mereka mengobrol dan bertukar pikiran.” Padahal
satu tokoh Masyumi dan satu tokoh PKI. Jadi, tutur Yusril, orang-orang
itu walaupun beda pendapat, dan bertentangan secara ideologi, tapi secara
pribadi tetap saling hormat menghormati, dan menjunjung tinggi rasa
persekawanan dan persahabatan politik.
Terlebih lagi
dengan opini yang merebak bahwa ada usaha deparpolisasi yang mencuat ke publik
atas sikap arogansi Ahok yang menistakan segala kekuatan partai politik. Harus
kita sadari bahwa, bangsa Indonesia berdiri sejak zaman kemerdekaan sampai
dengan hari ini, partai politik mempunyai peranan penting dalam sejarah
perjalanan bangsa Indonesia, dan menjadi simol yang kuat dari demokrasi itu
sendiri, serta partai politik adalah sebagai ujung tombak dari demokrasi,
dimana menjadi tempat berhimpunnya segala aspirasi dan kekuatan politik untuk
menjadikannya lebih terorganisir.
Di sisi lain Ahok
hadir dan kentara dengan sikap kepemimpinannya yang cenderung mactstaat, lebih mengutamakan kekuasaan dalam
menjalankan roda pemerintahan. Ini jelas sangat tidak sejalan dengan semangat
perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajan kolonialisme dan
imperialisme. Sebab, sikap pemimpin yang menggunakan kekuasaan dalam
menjalankan pemerintahan tentu saja bertentangan dengan jiwa dan semangat
bangsa Indoensia yang sudah sejak lama kita tinggalkan dan kita tentang budaya
kepemimpinan otoriterisem yang cenderung diktator seperti itu. Selain itu juga,
gaya kepemimpinan machstaat yang menjadikan rakyat sebagai
objek kekuasaan yang bisa dilakukan semena-mena tidak adil sudah kita
tinggalkan secara terang benderang di zaman orde baru. Karena itu, sosok
pemimpin machstaat ini jelsa mengkhianati semangat
reformasi itu sendiri. Selain itu juga tidak sesuai dengan amanat konstitusi
kita bahwa Indonesia adalah negara hukum, bukan merupakan negara kekuasaan.
Masih banyak lagi perbedaan di antara kedua sosok bakal calon gubernur DKI Jakarta 2017 ini,
baik dari sisi kepemimpinan,
kepribadian, dan pemahaman, serta perilaku politik antara Ahok dengan Yusril Ihza Mahendra yang sama sekali
bertentangan antara satu dengan yang lain.

Komentar
Posting Komentar