BUNG KARNO: Ulang Tahun Ke-115

[Koesno Sosrodihardjo, 21 Juni 1901 -  2016]
*selamat ulang tahun ke-115
_________________

Didalam tahun 1929 saya tahu bahwa situasi-situasi revolusioner itu akan datang, dan kemerdekaan Indonesia telah saya lihat menyingsing di cakrawala. Dengan hati yang berdebar-debar karena rasa kegembiraan yang tak tertahan, didalam tahun 1929 itu terlepaslah dari mulut saya kalimat yang terkenal: “kaum imperialisme, awaslah! Awas! Jikalau nanti geledek perang fasifik menyambar-nyambar dan membelah angkasa, jikalau nanti air samudera teduh menjadi merah, dan bumi di sekelilingnya menggempa karena ledakan bom dan dinamit, disitu rakyat Indonesia akan melepaskan belenggu-belenggunya, disitu rakyat Indonesia akan merdeka!”

Ucapan ini bukan satu “nudjum”. Ia bukan pernyataan seorang-orang yang melihat gambar hari kemudian terlukis dalam rangkaian bintang-bintang dilangit. Ia bukan pula keluar dari mulutku karena dorongan harapan berdasar “wishfull thinking”. Bukan pula sekedar hasutan kepada rakyat semata-mata, meskipun Belanda sudang barang tentu demikian menganggapnya dan melemparkan saya dalam penjara bertahun-tahun. Ia adalah hasil perhitungan akan datangnya situasi-situasi revolusioner, dan perhitungan akan mempergunakan situasi-situasi revolusioner itu.

Sekarang ini, sampai dimanakah duduknya perjuangan kita rakyat Indonesia? Sejak tahun 1908 kita mengadakan pergerakan, sejak tahun 1908 kita siang malam seolah-olah demam dengan pergerakan. Sejak hampir 40 tahun kita tidak mengenal istirahat. Sejak 17 Agustus 1945 kita mempunyai negara, tetapi sejak itu pula kita malahan makin mambanting tulang, makin “demam”, makin seperti “kerandjingan sjaitan”! Arus perjuangan tidak berhenti-henti, arus perjuangan itu tidak mengenal ampun, terus menarik kita dan terus menghela kita. Sampai dimanakah, sekarang, kita ini?

Tatkala Wahidin Sudirohusodo dalam tahun 1908 mendirikan Budi Utomo, dengan diikuti oleh cendikiawan-cendikiawan intelek bangsa, maka dadanya adalah penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala Umar Said Tjokroaminoto dengan suaranya yang seperti suara burung perkutut, bersama-sama dengan Haji Samanhudi, mendirikan Sarekat Dagang Islam, maka dadanya adalah penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala tidak lama kemudian daripada itu beliau merubah Sarekat Dagang Islam itu menjadi Sarekat Islam, maka dadanya-pun  penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala Ernest Douwes Dekker (Setiabudi) bersama-sama dengan Tjipto Mangunkusumo dan Suwardy Suryaningrat (sekarang Ki Hadjar Dewantara) mendirikan Nationaal Indische Partij, maka dada mereka penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala Semaun dan Alimin dan Muso dan Darsono membangkitkan Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat, maka dadanya penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala Mohammad Hatta, dengan kawan-kawannya yang ulung bergerak dalam Perhimpunan Indonesia, maka dadanya penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala Sutomo bersama-sama dengan kawan-kawannya intelektuil mendirikan P.B.I., mendirikan Parindra, mendirikan Bank Nasional, maka dadanya penuh dengan rasa cinta tanah air. Tatkala saya (Sukarno), bersama-sama dengan beberapa butir kawan mendirikan Partai Nasional Indonesia, dan kemudian menggerakkan Partai itu menjadi partai yang dicintai rakyat, maka dada saya alhamdulillah penuh pula dengan rasa cinta tanah air. Tatkala kita pada 17 Agustus 1945 dengan tekad yang bulat dan keras laksana peluru baja mendirikan Republik, maka dada kita penuh dengan rasa cinta tanah air. Dan manakala kita sekarang mati-matian mempertahankan Republik itu, mati-matian membentengi Republik itu dengan kesetiaan kita mati-matian merealisasikan isi semboyan kita “sekali merdeka, tetap merdeka”, maka dada kita semua penuh meluap-luap, menyala-nyala, berkobar-kobar dengan api cinta tanah air. 

Orang dan tempat tidak  dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi  yang ada dibawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan “Gemeinschaft”-nya dan perasaan orangnya, “I’ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan.

Seluruh rakyat Indonesia, baik didaerah republik maupun diluar daerah republik, seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai ke papua, seluruh rakyat Indonesia yang merantau di manca-negara, saya panggil kamu, untuk meneruskan perjoangan kita mempertahankan republik sebagai pelopor daripada perjuangan seluruh bangsa Indonesia, sebagai lambang kemenangan revolusi Indonesia terhadap imperialisme Belanda. 

Ya, ini barangkali memang berbau idealisme, barangkali memang berbau romantik. Saya memang dapat berlinang air mata pada saat mengelamunkan persatuan Indonesia itu. Tetapi saya mengucap suka-syukur kepada Tuhan, bahwa jiwa saya tidak kosong daripada idealisme dan romantik yang demikian itu. Saya merasa iba kepada orang-orang yang tidak mempunyai “Romantik Indonesia” itu. Saya merasa bahagia dalam keyakinan bahwa “romantik” saya itu bukan romantik yang merindukan sesuatu hal yang mustahil, tetapi merindukan sesuatu hal yang saya yakin dapat tercapai dan malahan pasti akan tercapai pula. Tetapi saya tidak mau “ber-romantik” sambil memeluk tangan. Saya mau bertindak aktif, saya mau berjuang, dan mengajak massa berjuang. Sebab saya adalah termasuk golongan orang-orang yang berpendapat bahwa keharusan-keharusan sosial-politik dalam masyarakat-manusia itu menjelma sebagai “kejadian” ialah selalu, bilamana anasir-anasir objektif mendapat cetusan Wahyu-Tjakraningratnya anasir-anasir subjektiff yang sehebat-hebatnya dan semassal-massalnya. Karena itulah maka saya gemar menjadi agitator yang dengan senjata idealisme, dengan senjata “penglamunan”, kalau perlu dengan senjata romantik, aktif menggugah massa, aktif membangkitkan massa!

Saya nasionalis, dan Insya Allah didalam seluruh Revolusi Nasional ini politis akan tetap mengutamakan nasionalisme. Tetapi, saya cinta pula kepada sosialisme oleh karena fikiran saya berkata, bahwa akhirnya gabta dalam masyarakat sosialisme-lah manusia dan dunia dapat selamat. Saya mengajak segenap wanita Indonesia dan segenap rakyat Indonesia  mencintai dan mengejar sosialisme itu (via Revolusi Nasional) oleh karena fikiran saya berkata, bahwa hanya dalam sosialisme-lah wanita Indonesia dan rakyat Indonesia dapat kebahagiaan, bahkan seluruh wanita sedunia dan seluruh kemanusiaan sedunia pula. Memang kebahagiaan kemanusiaan sedunia itulah tujuan-sosial kita yang terakhir, idam-idaman sosial kita yang terakhir!

Dan . . . . entah ini dimengerti orang atau tidak . . . . saya mencintai sosialisme oleh karena saya berTuhan dan menyembah kepada Tuhan. Saya mencintai sosialisme, oleh karena saya cinta kepada Islam. Saya mencintai sosialisme dan berjuang untuk sosialisme itu, malahan sebagai salah satu ibadah kepada Allah. Didalam cita-cita politikku aku ini nasionalis, didalam cita-cita sosialku aku ini sosialis, didalam cita-cita sukmaku aku ini sama sekali theis; sama sekali percaya kepada Tuhan, sama sekali ingin mengabdi kepada Tuhan. (Soekarno. Djokjakarta, 3 Nopember 1947)

Komentar