DILEMA DENGAN BUNG KARNO

Foto: simbolis peralihan Kepemimpinan Jaringan Mahasiswa Kota
"DILEMA DENGAN BUNG-KARNO"
(Diskusi Lepas Malam)

Saya membaca buku ini seperti saya sedang terhanyut kedalam keindahan cerita sukarno. Saya merasa seperti sedang duduk berdua ditempat yang sunyi dan damai, dan kami seperti sedang bercerita tentang perjuangan kaum wanita jelata jerman yang memperjuangan sosialismenya. 

Dan saya merasa terbuai akan cerita sejarah yang indah itu. Yaitu sejarah perjuangan, sejarah kebangkitan sosialisme jerman dan kehancuran sosialisme itu akibat dari tumbuhnya faham fasisme hitler yang dikenal dengan hukum cambuk dan kamp-kamp konsentrasinya. 

Juga saya merasakan keikhlasan dan kejujuran tutur katanya tentang kisah-kisah mereka para kaum laki-laki yang memperjuangkan hak-hak wanita jerman kala itu.

 Seperti bapak bagi pejuang-pejuang wanita jelata jerman, dia yaitu Ferdinand August Bebel ialah seorang pemimpin besar kaum buruh internasional dan jendralnya perjuangan proletar.

Saya seperti sedang ber-Dilema (diskusi lepas malam) dengan sukarno yang sebegitu alotnya, dan dengan seriusnya saya mendengarkan untaian-untaian cerita yang di tuturkan lewat baris-baris dan lembaran-lembaran tulisanya itu.

Sukarno seperti mengingatkan saya bahwa keras dan gigihnya perjuangan tokoh-tokoh utama dari kaum wanita jelata jerman itu seperti Clara Zetkin, Rosa Luxemburg dan lain sebagainya.

Dan juga seperti sukarno memeberi pemahaman bagi saya bahwa perjuangan kaum feminisme dan kaum wanita jelata jerman sangat jauh berbeda. 

Yang saya tafsirkan dari cerita itu adalah perjuangan wanita yang sesungguhnya adalah seperti kisah perjuangan wanita jelata itu. Bukan kaum-kaum feminisme eropa itu pula. 

Karena sukarno mengingtkan bahwa tuntutan kesamaan hak pemilihan(politik) bukan tujuan kahir dari perjuangan kaum wanita jelata, melainkan daripada tercapainya sosialisme di kalangan perempuan, dan itulah kahir dari perjuangan yang sesungguhnya. 

Akan tetapi yang dia tekankan melalui diskusi via buku ini adalah perjuangan kaum wanita jelata jerman bukan perjuangan tersendiri yang terpisah dari perjuangan laki-laki itu pula.

Melainkan adalah perjuangan antara laki-laki dan wanita jelata itu adalah satu. Seperti  " dua anggota dalam satu badan, dua suara dalam satu nyanyian, dua gelombang dari satu samudera.
Mereka itu satu keyakinan, satu faham, satu ideologi dan satu bezieling menduduki jiwa mereka" 

Begitulah kata sukarno dengan sangat jelas dalam dilema via buku ini (sarinah 1963).

Sukarno seperti mengingatkan saya bahwa kehausan akan kekuasaan dan ketidak teguhan dalam menganut prinsip maka akan menggiring kita dan perjuangan ini kedalam perpecahan dan kehancuran. 

Seperti yang dialami oleh pergerakan-pergerakan sosialisme jerman pada masa 1914-1918 tepatnya pada masa perang besar yang sempat diramalkan oleh seorang dari kaum wanita jelata yaitu Rosa Luxemburg yang mempunyai kegigihan dan pemikiran yang sangat tajam pada masa pergerakan mereka di jerman.

Sukarno mengatakan bahwa mereka para sosialis-sosialis tua jerman yang berada di parlemen (Reichstag) malah menyetujui penganggaran untuk berlangsungnya perang 1914-1918 itu. 

Mereka para sosialis-sosialis tua malah meminta bantuan kepada pemimpin-pemimpin borjuis. Maka kaum wanita jerman kembali sengasara akan hidup dalam ketertindasan yang terutama sekali merasakan ketertindasan itu siapa? 

Merka ialah Clara zetkin dan Rosa luxemburg, dan kawan-kawan.

Tapi tetap mereka-mereka itu kata sukarno perempuan yang tetap berpegang teguh pada ideologi dan keyakinan mereka untuk memperjuangkan wanita jelata itu.

Yang sebelumnya mereka mendapatkan 110 kursi di parlemen (Reichstag) perwakilan dari kaum buruh pada tahun 1912. 

Itu semua hasil dari perjuangan yang keras para ke 50 agitator perempuan dari wanita jelata itu, termasuk Louise Zietz pemimpim pergerakan kaum wanita jelata jerman yang juga paling idiologis dan ulung, dan juga getol mengadakan ratusan rapat-rapat, melangsungkan aksi demonstran besar-besaran giat dan penuh semangat dilakukannya  pada masa itu.!!

Akan tetapi jika saya mencoba menyebut nama Ferdinand August Bebel dan meyakini dia sebagai bapak perjuangan kaum wanita jelata jerman seperti yang diyakini wanita-wanita jerman dan membaca cerita sukarno ini. 

August Bebel dia adalah yang pertama sekali mempengaruhi dan mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa pergerakan perempuan, kesadaran akan gerakan yang revolusioner harus ada dalam diri perempuan itu, melalui bukunya "WANITA DAN SOSIALISME" (Fraud und der Sozialismus).

Dan pada masa setelah pencabutan Undang-undang tentang larangan sosialisme dijerman sekitaran tahun 1980.
Maka faham ini berkembang begitu pesat, hingga buku August Bebel mengalami cetakan yang ke 25 pada tahun 1902. 
Dan 1906 beranjak pada cetakan ke 40 kalinya. 

Tapi sayang ketika fasisme hitler merajalela buku sosialis dilarang dijerman, dibakar, dibasmi habis. 

Karena Hitler menentang keras cita-cita pengangkatan derajat wanita.
Bahkan dia mengatakan "wanita gila yang menghendaki emansipasi, apalagi menghendaki masyarakat sosialis".

Sukarno bercerita kepada saya bahwa Hitler itu memandang perempuan hanya boleh tinggal dirumah-tangga saja. 

Dan hanya baik buat empat-K.
Yaitu : ( Kirche/gereja), (Kuche/dapur), (Kinder/anak-anak), (Kleider/pakaian).

Diakhir penutupan dilema (diskusi lepas malam) dengan sukarno ini.
Dia mengatakan bahwa saat kekacauan jerman tersebut. 

Bahwa bebel itu sangat asyik dibaca orang-orang diluar jerman, malah kitab/buku bebel itu disalin lebih dari sepuluh bahasa. 

Sebab selain mengupas soal wanita dengan cara yang mengagumkan.
August bebel senidiri adalah salah seorang pemimpim kaum buruh internasional yang amat besar, ia adalah seorang  jendral perjuangan proletar, jendral yang ulung. Sederajat dan setingkat dengan " Wilhelm Liebknecht, Jean Jaures, Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, dan pemimpin besar lainya. 

Suaranya diperhatikan di rapat-rapat raksasa, di konferensi-konferensi partai, di Reichstag (parlemem), dan kongres-kongres internasional.

Dan bagi wanita-sosialis dia adalah salah seorang pemimpin kaum buruh yang pertama-tama membuktikan perlunya kaum wanita diajak ikut serta dalam pergeraka yang revolusioner.

Begitulah akhir dari diskusi saya bersama Bung Karno malam ini. 

Dan closing statemen-nya di kahir itu membuka mata dan fikiran saya bahwa :

Di indonesira kita mempunyai August Bebel itu.
yaitu Bapak proklamator kita sendiri beliau adalah Bung karno sendiri. 

Dan kitab bebel yang menjadi referensi dan semangat yang fundamental bagi perjuangan pergerakan wanita jelata dijerman.

Maka di indonesia kita mempunyai sebuah kitab bapak revolusioner kita.

 Dia itu adalah Bung karno dengan kitabnya "SARINAH" (KEWADJIBAN WANITA DALAM PERJOANGAN REPUBLIK INDONESIA).

Bungkarno bagi saya adalah salah seorang tokoh revolusioner dengan pengetahuan mendunia.

Dan beliaulah tokoh utama yang membicarakan dan memperjuangkan hak-hak wanita dalam perjuangan Republik indonesia.

Beliaulah orang yang memikirkan dan membuat konsep sekaligus penyusun kemana dan mau dibuat bagaimana perempuan-perempuan indonesia kita tercinta ini.

Semoga masyarakat kita sadar akan hal pentingnya perempuan dalam perjuangan pergerakan politik dan sosial. 
Yang telah lama dimimpikan oleh tokoh utama bangsa kita.

Mari kita menyatakan mimpi dan angan-angan beliau ini, yang mungkin sempat damanipulasi oleh sejarah dan kebohongan-kebohongan atas kebenaran perjuangan para bapak pendiri bangsa kita REPUBLIK INDONESIA.!!
#salaREVOLUSI

Komentar