![]() |
| Foto: pada moment ngopi pagi di Kubra |
Anwar Rajab namanya. Beliau ini menemani saya kemarin menikmati sepancung kopi di kubra (Kupi Beurawe, salah satu warkop populis di kalangan pemuda, mahasiswa, pengamat, bahkan pejabat di Kota Banda Aceh).
Pak anwar orang yang amat sangat cerewet, bahkan ia tak henti-hentinya bicara, kadang ia hampir tidak memberikan kesempatan kepada saya atau lawan bicaranya.
Pak anwar banyak bercerita dan berkisah tentang pengalaman hidupnya, saya mendengar cerita beliau ini dari timur hingga ke barat indonesia (Aceh-Papua).
Bahkan kata beliau, ia pernah ke Taiwan dan Cina pada awal tahun biasanya ia selalu dibawa oleh bos cina penayong tempat ia bekerja, dan banyak juga kisahnya disana.
Pak Anwar Rajab seorang pekerja pasar dengan pakaian lusuh dan berlumuran lumpur, akan tetapi yang membuat saya semakin tertarik untuk terus mendengarkanya adalah pembahasan yang menurut saya patut untuk didengar, walau tak jarang ia mengaur.
Katanya, dulu berkuliah di Sospol Universitas Iskandar Muda (UNIDA) angkatan 85. Karena ia malas bekerja di pemerintahan, maka ijazahnya diberi ke orang lain. Lalu saya bertanya kenapa? Bukankah lebih enak jika menjadi pegawai negeri, begitu timpal saya.
Katanya, ia malas bekerja dipemerintahan karena kita harus ikuti kode etik atau tata tertib yang berlaku, ruang kita menjadi lebih terbtas dan tidak bebas. Dari gestur pak anwar saya menilai memang beliau enggan sekali menajadi pegawai negeri.
Karena sakit yang sejak lama ini diderita beliau, terkadang omongannya meleber kemana-mana, tak jarang juga ia harus berada di rumah sakit jiwa saat sakitnya itu kambuh. dan saya pun memaklumkan kondisi pak anwar yang seperti itu.
Pak anwar pernah bekerja sebagai penjaga kebun di tanah gayo selama satu setegah tahun, katanya ia banyak mnadapatkan "ilmu" disana. Segala macam binatang buas pernah ia temui, bahkan ia punya "cara" bagaimana menjinakkan binatang buas tersebut.
Dengan keahlian pak anwar itu, katanya ia sering di ajak oleh orang bule ke hutan rimba bermalam-malam lamanya untuk menjadi penjaga bule-bule itu dari ancaman binatang buas.
Selain itu, Pak Anwar juga menagatakan bahwasanya ia bisa memanggil berbagaimacam jenis makhluk halus. Dari tuyul, kuntilanak, dan jin-jin lain yang ia inginkan. Akan tetapi kebiasaan buruk itu sudah ia tinggalkan sejak ia mulai mengaji, begitu sangkalnya.
Semasa hidup, ia banyak menggali ilmu-ilmu mistik, bahkan tak jarang orang menyebut ia seorang dukun, karena kelakuan Pak Anwar yang seperti itu berbeda dengan orang-orang lain pada umumnya.
Pak Anwar juga mengatakan kepada saya bahwasanya dirumah beliau (dibawah tempat tidur) ia memelihara dua ekor ular jenis kobra, yang ia rawat semenjak kecil, sekarang ular itu sudah tumbuh besar dengan bahasa tubuh Pak Anwar yang saya tangkap bahwa ular itu lebih kurang sudah berukuran lima meter panjangnya. Dan ia juga sedang memelihara beberapa ekor anjing.
Selain kebiasaan yang berkelainan itu, kiranya Pak Anwar juga seorang yang giat membaca, dan banyak memperoleh pengetahuan otodidak. Ilmu-ilmu pertanian ia peroleh dari buku saudaranya, yang ia langsung mempraktekkan apa yang telah ia baca. Banyak sudah pohon-pohon yang ia kawinkan, termasuk pohon anggur, begitu ungkap Pak Anwar.
Yang membuat saya semakin yakin dengan eksperimen mengawinkan itu adalah ketiaka pak anwar beranjak pulang, ia memperlihatkan kepada saya pohon yang sedang di ujinya itu berada dalam potongan botol merek aqua berisi sedikit air kecoklatan.
Setelah ia selesai dengan pembahasan kawin mengawinkan. Lalu ia bertanya kepada saya tentang suatu hal yang mungkin menajdi tanda tanya besar didalam fikirannya selama ini.
Beliau bertanya kepada saya : "kalau pohon ganja di kawinkan dengan pohon kokain jadi apa ya".
Lantas saya ikut kebingungan dengan pertanyaan beliau itu, dan hanya mengerutkan dahi saja untuk menjawab pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh saya.
Lalu beliau bertanya tentang perkuliahan saya, atas jawaban saya tentang kondisi perkuliahan yang sudah menginjak semster sembilan, beliau langsung menanyakan judul skripsi saya.
Setelah saya menjawab beliau menganggukkan kepala menimpali ooh bagus itu.
Karena di ujung judul skripsi saya itu ada Mahkamah Konstitusi-nya, pak anwar mengatakan kalau ia pernah kesana, dan ada banyak orang kita Aceh bekerja disana. Katanya, beliau pernah mendengar orang-orang disitu bercakap-cakap bahasa Aceh.
Diseputaran skripsi juga beliau mengatakan kepada saya bahwa ia pernah banyak membantu teman-temannya membuat skripsi untuk menyelesaikan tugas akhir mereka[].
*** *** ***
Diluar benar dan tidaknya pak anwar, akan tetapi ia menajdi teman ngobrol yang asik siang kemarin.
[Foto ini dijepret oleh bung Mulya Rizki Nanda saat saya sendang menyodorkan sebatang kretek ke pak anwar]

Komentar
Posting Komentar