Man of Legend

Pak Bos; atau familiar dengan nama panggil "Si Bos" adalah penjaga parkir legendaris di Fakultas Hukum Unsyiah yang akrab dengan saya dan mahasiswa/i lainnya lintas generasi.

Banyak pelajaran dan pengalaman yang dapat saya petik dari Si Bos selama empat setengah tahun. Meskipun ia tidak berprofesi sebagai seorang dosen di Fakultas Hukum, bagi saya Si Bos adalah guru moral dan sosial saya di teras kampus. Tak jarang kami sering duduk berdua, berdiskusi, terkadang Si Bos juga menjadi lawan catur berat saya Dibawah Pohon Rindam (DPR).

Cerita Si Bos seingat saya, ia mulai menjuru parkir semenjak tahun 2003, dimana situasi bagian barat Indonesia ini sedang berkecamuk "perang", dan ancaman senjata dimana-mana.
Menjadi juru parkir bukan suatu profesi yang sebernarnya Si Bos ingin tekuni, tetapi karena paksaan kondisi Si Bos harus mencari tempat pelarian yang aman bagi keselamatan dirinya sendiri. Wajar sajalah hal tersebut demikian, ketika itu umur Si Bos belasan tahun lebih muda dari sekarang. Sebab acncaman dan tuduhan-tuduhan sebagai "pemberontak" itu umumnya anak muda yang selalu menjadi sasaran target, dan selalu menjadi objek tindak kekerasan dari kedua belah pihak yang tidak bertanggungjawab.

Mengapa saya menyebut ia sebagai guru moral dan sosial? Sebab begini, jika dibandingkan profesi seorang juru parkir dengan pegawai negeri sipil itu perbedaannya seperti langit dan bumi, sudah barang tentu pula faktor ekonomi selalu mempengaruhi kondisi emosional seseorang itu.

Selama saya mengenal Si Bos dari empat tahun setengah lalu sampai dengan hari ini masih tetap saja sama, malah bos bertambah akrab dengan mahasiswa/i yang telah lama ia kenal, Si Bos orang yang tidak pandang bulu, berteman dengan siapa saja, ramah tamah, ceria dan selalu tersenyum menyapa setiap orang yang ia kenal. Bahkan tidak pernah saya melihat raut muka Si Bos merengut atau dahinya mengerut, walau tak jarang mahasiswa/i yang tidak membayar retribusi. Begitu juga dengan saya sendiri seringkali ngutang sama Si Bos, tetapi walaupun begitu Si Bos tetap tidak mengurangi rasa hormat-menghormati dan menjunjung tinggi rasa persekawanan dan persahabatan.

Si Bos juga selalu berlaku adil kepada setiap mahasiswa/i di fakultas hukum, tidak pernah ia memperlakukan atau melayani orang secara berbeda-beda. Dan tidak pernah Si Bos berlaku sombong kepada siapa saja, walau ia sadar mempunyai otoritas di lapak parkir yang ia jaga.

Bukan hanya saya yang merasa senang bergaul dengan Si Bos, tetapi ribuan mahaiswa lain juga berperasaan sama seperti saya.

Setiap orang pasti dilanda masalah, tetapi Si Bos tidak pernah melampiaskan kemarahannya kepada orang lain dengan alasan apapun, apalagi maslah pribadinya sendiri. Si Bos selalu saja tegar dan kuat di setiap harinya, dan tak pernah menyerah dengan kondisi atau situasi yang walau begitu mencekam.

Sebab bagi saya, pelajaran itu tidak hanya di dapat dari seorang guru atau seseorang yang lebih tahu dari ketahuan yang kita miliki, atau dari seseorang yang mempunyai strata sosial tinggi. Tetapi, jika kita menghayati segala hal dengan cermat, maka di setiap itu pula kita mendapatkan pelajaran yang membijaksanakan. 

Terimaksih banyak Pak Bos atas pengalaman yang membelajarkan.
Foto Ini menjadi momen yang selalu menajdi kesan lain bagi saya selama menimba ilmu di fakuktas hukum universitas syiah kuala.

Darussalam, Banda Aceh 19 April 2016

Komentar