Mungkin belum sejuta, tapi saya percaya betul itu nyaris ratusan-ribu banyaknya. Sebab dulu, saya tidak pernah berpikir untuk menghitung berapa banyak saya merangkai kata menjadi sebuah kalimat, paragraf, hingga berbentuk surat. Akan tetapi, itulah yang saya lakukan di tahun-tahun belakang.
Terlintas saja seperti Che Guevara pernah berkata; tulisan adalah --senjata, bujukan, serta rayuan yang menghanyutkan kesadaran.--
Sekarang pun bukan tidak mahu untuk meneruskannya kembali, tetapi tidak ingin sekali rasa-rasanya membuat ia terhanyut jauh dalam setiap bait-bait yang di-setiap itu saya sisipkan nada-nada serta imajinasi yang ia sulit mengendalikannya, walau ia mencoba untuk melawan untuk tidak terhanyut pada tiap-tiap kalimat itu.
Memang begitu pula-lah realitasnya, apabila kita menulis sembari mencoba menghidupkan tiap-tiap kalimat tersebut. Tidak seperti kebanyakan orang yang memandang kata-kata adalah suatu teks mati yang tidak mempunyai makna apa-apa.
Kadang terlupakan oleh orang bahwa; mereka menggunakan -kata-kata- hanya untuk memberi makna atas sesuatu yang lain, seperti kita mendefinisikan sesuatu obyek yang kita ingin memberi penjelasan diatasnya.
Sedang kita luput dalam memberi makna, warna dan nada pada 'kata-kata' itu sendiri. Alangkah menjadi kompleks dan gilanya pembaca apabila kita berhasil mensisipi secuil imajinasi didalamnya.
Saya pernah berpikir untuk berhenti saja. Tetapi, seorang Sahib mengingatkan saya, ia-pun saya teruskan perlu rasa-rasanya nuansa dan obyek yang berbeda sekali.
Memang benar tulisan itu adalah salah satu sarana yang mana mampu menggambarkan sejarah terhadap masa depan. Tetapi, terhadap ini tidak mungkin sekali kiranya saya mengabadikannya, walau ia telah abadi bersama-sama dengan keabadian.
Saya menulis ini bukan untuk berusaha melangkah mundur, tapi ialah wujud betapa saya harus menukil cerita yang berbeda kedepannya. Barangkali ada yang mencoba memberikan pengandaian terhadap apa yang pernah, telah, dan sedang saya kerjakan sekarang ini, biarkan saja-lah. Dan, jangan berusaha melogikakan-nya sebagaimana logis bagi anda, saya-pun jua tidak mengutuhkan pemahaman atas apa yang ada disini.
Kemanapun kita melangkah anggap sajalah kebenaran itu tepat berada dibawah telapak kaki kita sehingga menjauhkan kita daripada keragu-raguan.
Kemanapun kita melangkah anggap sajalah kebenaran itu tepat berada dibawah telapak kaki kita sehingga menjauhkan kita daripada keragu-raguan.
--Dalam hidup tidak pernah ada yang namanya tidak tepat, hanya waktu saja yang membuat tepat itu menjadi tidak tepat--

Komentar
Posting Komentar