![]() |
| Foto: Kompas Image/JMK/aksi-Tolak-RUU-KAMNAS |
Adakah tempat yang paling sexy selain jalanan? Aku rindu saat-saat dimana kita saling meneriaki aspirasi masyarakat tanpa memperdulikan asumsi dan spekulasi penonton dan orang-orang diluar lingkaran itu. Tanpa perduli juga bahwa kita diklaim ditunggangi oleh cukong-cungkong elit politik, dan mereka-mereka yang mempunyai kepentingan.
Akan tetapi apa yang selalu kita percayai selama ini bahwa "sejarah akan selalu mencatat perjuangan kawan-kawan." Dan apa yang kita lakukan hari ini adalah yang ideal menurut konstruksi berfikir yang kita bangun. Syahdunya suara kita bernyanyi-nyanyi sebagai instrumen penyemangat dan pembangkit bara api perjuangan yang menggebu-gebu.
Adakah kita ingat masa-masa itu? Adakah kita merasa lebih berharga menyandang status dan tanggung jawab sebgai mahasiswa itu? Dan setelah kita dibasahi peluh sekujur badan terkadang tak jarang pula menyengatnya bau badan. Selepas asyik berteriak-teriak tentang subtansi apa yang kita perjuangkan lalu kita merasa sebagian kecil dari besarnya tanggung jawab ini sudah kita realisasikan.
Sepulang itu juga selepas mengevaluasi pergerakan bahkan tidak terlintas difikiran untuk menghentikan pergolakan pergerakan ini, karena apa? Hanya satu yang kita yakinkan bahwa soal kerakyatan, sosial ekonomi, politik dan budaya adalah hal yang sangat kompleksitas yang tidak akan pernah ada hujungnya, yang terus meyakinkan kita juga bahwa perjuangan yang kita lakukan hari ini belumlah berakhir, akan tetapi ini awal untuk terus bergerak dan bergerak hingga sampai kepada tetes darah penghabisan hingga cita-cita kesejahteraan yang hakiki itu kita temukan di suatu masyarakat yang utopis.
Entah sampai kapan kita akan terus memperjuangkan kebenaran ini, entah sampai nanti, entah sampai bumi ini hancur lebur diluluh lantakkan oleh Tuhan. Kita juga tidak pernah tahu kapan pastinya absolutisme masyarakat yang merdeka secara konfrehensif sehingga tidak ada lagi eksploitasi, penghisapan-penghisapan darah kaum rakyat jelata dan rakyat miskin kota. Kalau itu masih terjadi dan diderita oleh masyarakat maka di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu akan selalu ada kita untuk menumbuhkan api perlawanan terhadap kaum penguasa yang tiran.

Komentar
Posting Komentar