Saya bertahun-tahun sudah berhasil membebaskan diri dan fikiran dari belenggu sosial dan pengekangan para borjuasi-borjuasi sialan. Saya selalu melawan segala keterikatan dan keterbatasan hidup walau saya tidak mendapatkan beberapa kemungkinan. Saya selalu anti sekali dengan “pertuanan” yang mendewa-dewi tololkan para manusia yang angkuh dan sombong itu. Jika saya rasis maka rasislah saya ini. Jika saya tidak suka maka akan tetap begini adanya. Karena saya enggan menggantungkan hidup kepada orang lain, apalagi kepada mereka-mereka yang ingin di “pertuan-nyonyakan”.
Bukan saya menyombongkan diri, tapi saya masih sangat menjunjung tinggi martabat seorang manusia itu. Soal stratifikasi sosial saya adalah orang yang pertama sekali sensitif terhadap itu. Saya anti sekali terhadap kesewenangan-wenangan, ketidak adilan dan terhadap kelas-kelas sosial itu. Saya bukan orang yang ingin besar untuk dipandang dan kecil untuk dikasihi, apalagi menjadi pengemis terhadap mereka-mereka pembesar itu, bahkan kepada orang tua sendiri saya enggan untuk mengemis diri dan dikucilkan.
Dari dulu hingga sekarang ini anda melakukan hal tersebut terhadap saya. Beberapa kali saya mencoba untuk tetap sabar dan mungkin hari ini adalah puncaknya, yang memang saya tidak bisa hidup di dalam keterbatasan dan ketertindasan sosial, meskipun saya bukan seseorang yang mempuanyai status dalam sosial itu pula. Saya berfikir dan merasakan anda membuat dan memperlalukan saya bak seorang budak yang belum dimerdekakan oleh tuannya, seakan saya seperti mereka budak-budak itu yang hidup pada masa abad sebelum masehi. Sepengetahuan saya sistem kehidupan itu sudah usang dan tidak digunakan lagi dalam masyarakat modern ini dimana di era dewasa ini penghambaan itu diteruskan oleh para kapital-kapital terhadap buruh-buruh mereka setelah runtuhnya rezim feodalisme itu.
Saya merasa telah lama saya memerdekakan diri dan fikiran saya akan hal itu. Saya membaca tulisan sukarno tentang potret sejarah perempuan pada masanya, para perempuan-perempuan yang di kekang dan dibatasi oleh para suami-suami mereka, yang tidak diberi keluar rumah, bergaul, dan bahkan diperkenalkan kepada orang lain. Setelah saya mendalami persoalan gelapnya masa-masa perempuan itu sungguhlah saya tidak ingin berperilaku begitu terhadap anda. Saya selalu memberikan ruang bebas untuk anda, saya selalu memberikan kesempatan dalam pengambilan keputusan, saya selalu juga mendengarkan cerita dan pendapat anda itu. Sungguh saya ingin anda merdeka di segala lini kehidupan dan tak ingin mengikat apalagi mebatas-batasi anda dalam hal apapun. Saya selalu dengan senang hati mempraktekkan itu terhadap anda, tidak pernah saya dengan egoisme sendiri mengambil keputusan apalagi untuk memaksa anda itu. Saya tidak pernah sungkan-sungkan mengenalkan anda kepada teman-teman anda, dan tidak pernah juga saya malu membawa anda kemana-mana. Karena saya sudah terlebih dahulu berfikir dan menerima segala konsekuensi atas semua perbuatan saya, apapun itu konsekuensinya.
•Penggalan sebahagian surat ini tak layak publis...

Komentar
Posting Komentar